• Kamis, 28 Oktober 2021

Viral Sakit Tenggorokan Jadi Tanda Klamidia, Bagaimana Fakta Sebenarnya?

- Minggu, 10 Oktober 2021 | 15:22 WIB
Mitos seputar klamidia (Mahri Priyatno)
Mitos seputar klamidia (Mahri Priyatno)

Baru-baru ini beredar mitos seputar klamidia yang sempat viral di TikTok. Beruntung, seorang dokter dari NHS bernama Dr Karan Raj akhirnya buka suara untuk meluruskan mitos kesehatan yang cukup menyesatkan tersebut.

Dr Karan Raj menanggapi salah satu unggahan pengguna TikTok yang memberi tahu para pengikutnya, bahwa sakit tenggorokan bisa jadi gejala awal terjangkitnya penyakit klamidia. Bukan hanya informasi yang salah, Dr Karan Raj ingin meluruskan mitos yang beredar tersebut juga karena saat ini ada banyak orang tengah mengalami flu dan sakit tenggorokan akibat covid-19.

Dengan detail, Dr Karan Raj menjelaskan bahwa satu-satunya cara memastikan sakit tenggorokan bisa jadi efek samping penyakit infeksi menular seksual IMS adalah dengan penggunaan diagram.

Seperti yang diketahui, klamidia merupakan salah satu jenis penyakit yang disebabkan penularan melalui hubungan seksual dengan penderita penyakit tersebut. Terutama ketika pasangan tersebut melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan kondom atau melakukan oral seks.

Berdasarkan penuturan Dr Karan Raj, sakit tenggorokan sangat jarang dijadikan pertanda seseorang menderita klamidia. Bahkan bisa dipastikan, sakit tenggorokan tak masuk dalam daftar gejala terbatas penyakit menular seksual tersebut.

Dengan kata lain Dr Karan Raj menegaskan, sakit tenggorokan dan klamidia sama sekali tak berkaitan. Namun ada baiknya, jika semua orang yang masih aktif berhubungan seks, terutama yang berumur di bawah 30 tahun untuk rutin menjalani tes IMS.

Para ahli mengatakan, bahwa klamidia dan gonore termasuk jenis infeksi menular seksual yang paling umum. Meski kondisi tersebut bisa diobati dengan antibiotik, tetapi ada kemungkinan penyakit ini menyebabkan masalah kesehatan lainnya. Mulai dari nyeri di sekitar panggul hingga kemandulan.

Apa saja gejala penyakit klamidia?

Seperti yang dikatakan di atas, klamidia merupakan penyakit infeksi menular seksual yang disebabkan bakteri Chlamydia trachomatis. Sering melakukan hubungan seksual tanpa pengaman, seperti kondom merupakan salah satu cara seseorang tertular penyakit ini.

Klamidia adalah jenis penyakit yang tak bisa diremehkan karena bisa jadi penyebab masalah kesehatan lain yang jauh lebih serius. Pada wanita, klamidia berpotensi mengakibatkan kehamilan ektopik, peradangan serviks, hingga radang panggul.  

Sementara pada pria, klamidia menyebabkan infeksi kelenjar prostat dan juga testis. Namun sayangnya, kebanyakan pasien penyakit ini tak menyadari dirinya mengidap klamidia karena gejalanya tak selalu tampak.

Berdasarkan situs CDS, diperkirakan sekitar 10 persen pria dan 5 sampai 30 persen wanita dengan klamidia mengalami gejala tertentu. Hal ini bisa dikarenakan siklus perkembangan bakteri yang memang sulit ditebak.

Dengan kata lain, bakteri C. trachomatis ini bisa saja menyerang seseorang, tetapi gejalanya baru muncul beberapa minggu kemudian. Bila terdapat gejala yang muncul, maka penderitanya baru bisa mengetahui hal tersebut setelah satu hingga tiga minggu sejak awal penularan.

Kapan harus periksa ke dokter?

Penyakit klamidia ini memang sulit dideteksi sendiri karena berbagai gejala yang tak pasti. Oleh sebab itu, ada baiknya untuk melakukan tes skrining penyakit menular seksual atau pemeriksaan infeksi menular seksual.

Terutama untuk orang-orang yang tergolong aktif melakukan hubungan seksual tidak aman dan sering bergonta-ganti pasangan. Inilah tujuan dari tes skrining tersebut. Bukan itu saja, segera periksakan diri ke dokter jika pasangan ternyata mengidap klamidia meski belum ada gejala yang muncul.

Hal semacam ini penting untuk dilakukan guna memastikan penularan klamidia sehingga petugas medis bisa memberikan pengobatan secepatnya.

Editor: Mahri Priyatno

Sumber: detik.com

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Seorang Bocah Hanyut di Gorong-Gorong Demi Sandal

Rabu, 13 Oktober 2021 | 19:25 WIB
X